MAKALAH TEORI KOGNITIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teori
kognitif adalah teori yang mangatakan bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang
dapat diukur dan diamati. Dalam teori ini lebih menekankan bagaimana proses
atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh
orang lain. Teori pembelajaran ini adalah sebuah teori pembelajaran yang
cenderung melakukan praktek-praktek yang mengarah pada kualitas intelektual
peserta didik. Meskipun teori ini memiliki berbagai kelemahan akantetapi, teori
kognitif ini juga memiliki kelebihan yang harus diperhatikan dalam kegiatan
pembelajaran. Salah satu aspek positifnya adalah keceerdasan peserta didik
perlu dimulai dari adanya pembentukan intelektual dan mengorganisasian
alat-alat kognisi.
B. Rumusan
Masalah
- Apakah
pengertian dari teori belajar?
- Bagaimana
pandangan teori belajar Kognitif ?
- Siapa
tokoh-tokoh teori belajar Kognitif ?
- Bagaimanakah
Implikasi teori belajar kognitif dalam kegiatan pembelajaran?
C. Tujuan dan Manfaat
·
Agar
memahami pengertian dari teori belajar.
·
Agar
mengerti pandangan teori belajar kognitif.
·
Agar
mengetahui tokoh-tokoh teori belajar kognitif.
·
Agar
memahami implikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Belajar Menurut Teori Kognitif
Belajar kognitif memandang belajar
sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi, terutama unsur pikiran, untuk
dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Aktivitas belajar
pada diri manusia ditekankan pada proses internal berfikir, yakni proses
pengolahan informasi.
Teori belajar
kognitif lebih menekankan pada belajar yang merupakan suatu proses yang terjadi
dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53)
bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat
secara relatif dan berbekas”.
Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang
melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari
proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan
dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap
yang bersifat relatif dan berbekas.
B. Pandangan Teori Belajar
Kognitif
Tidak
seperti halnya belajar menurut perspektif behavioris dimana perilaku manusia
tunduk pada peneguhan dan hukuman pada perspektif kognitif ternyata ditemui
tiap individu justru merencakan respons perilakunya, menggunakan berbagai
cara yang bisa membantu dia mengingat serta mengelola pengetahuan secara unik
dan lebih berarti. Teori belajar yang berasal dari aliran psikologi kognitif
ini menelaah bagaimana orang berpikir, mempelajari konsep dan menyelesaikan
masalah. Hal yang menjadi pembahasan sehubungan dengan teori belajar ini adalah
tentang jenis pengetahuan dan memori.
1.
Jenis Pengetahuan
Menurut
pendekatan kognitif yang mutakhir, elemen terpenting dalam proses belajar
adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu kepada situasi belajar.
Dengan kata lain apa yang telah kita ketahui akan sangat menentukan apa yang
akan menjadi perhatian, dipersepsi, dipelajari, diingat ataupun dilupakan.
Pengetahuan bukan hanya hasil dari proses belajar sebelumnya, tapi juga akan
membimbing proses belajar berikutnya. Perspektif kognitif membagi jenis
pengetahuan menjadi tiga bagian, yaitu:
a.
Pengetahuan Deklaratif yaitu pengetahuan yang bisa dideklarasikan
biasanya dalam bentuk kata atau singkatnya pengetahuan konseptual. Contoh,
pengetahuan tentang fakta (misalnya, bumi berputar mengelilingi matahari dalam
kurun waktu tertentu), generalisasi (setiap benda yang di lempar ke angkasa
akan jatuh ke bumi karena adanya gaya gravitasi), pengalaman pribadi (apa yang
diajarkan oleh guru sains secara menyenangkan) atau aturan (untuk melakukan
operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan maka pembilang harus disamakan
terlebih dahulu).
b.
Pengetahuan Prosedural yaitu pengetahuan tentang tahapan yang harus
dilakukan misalnya dalam hal pembagian satu bilangan ataupun cara kita
mengemudikan sepeda, singkatnya “pengetahuan bagaimana”. Contoh,
Menyatakan proses penjumlahan atau pengurangan pada bilangan pecahan
menunjukkan pengetahuan deklaratif, namun bila siswa mampu mengerjakan
perhitungan tersebut maka dia sudah memiliki pengetahuan prosedural. Guru dan
siswa yang mampu menyelesaikan soal melalui rumus tertentu atau menterjemahkan
teks bahasa Inggris. Seperti halnya siswa yang mampu berenang dalam satu gaya
tertentu, berarti dia sudah menguasai pengetahuan prosedural hal tersebut.
c.
Pengetahuan Kondisional,Pengetahuan adalah pengetahuan dalam hal “kapan
dan mengapa” pengetahuan deklaratif dan prosedural digunakan. Seperti.siswa
harus dapat mengidentifikasi terlebih dahulu persamaan apa yang perlu dipakai (pengetahuan
deklaratif) sebelum melakukan proses perhitungan (pengetahuan prosedural).
Pengetahuan kondisional ini jadinya merupakan hal yang penting dimiliki siswa,
karena menentukan penggunaan konsep dan prosedur yang tepat. Terkadang siswa
mengetahui fakta dan dapat melakukan satu prosedur pemecahan masalah tertentu,
namun sayangnya mengaplikasikannya pada waktu dan tempat yang kurang tepat.
C. Tokoh-tokoh Teori Belajar Kognitif
1.
Teori Belajar Cognitive Developmental Dari Piaget
Dalam
teorinya, Piaget memandang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari
fungsi intelektual dari konkret menuju abstrak. Menurut Piaget, perkembangan
kognitif merupakan suatu proses genetic,
yaitu suatu proses yang di dasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem
syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang, maka makin komplekslah
susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Pertumbuhan
intelektuan adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Dengan kata lain,
daya berpikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula
secara kualitatif.
Menurut Jean Piagiet, bahwa proses belajar terdiri dari tiga
tahapan, yaitu :
a. Asimilasi yaitu proses penyatuan
(pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada
dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip
penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses
pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa),
dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru) itu yang disebut
asimilasi.
b. Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif
ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka
berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru
dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
c. Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian
berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut
dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga
stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara
“dunia dalam” dan “dunia luar”.
Menurut
piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap
perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola san tahap-tahap ini bersifat
hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang
tidak dapat belajar sesuatu yang berada di luar tahap kognitifnya. Piaget
membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat yaitu :
a. Tahap sensory – motor, yakni
perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun, Tahap ini diidentikkan
dengan kegiatan motorik dan persepsi yang masih sederhana.
Ciri-ciri tahap sensorimotor :
1) Didasarkan tindakan praktis.
2) Inteligensi bersifat aksi, bukan
refleksi.
3) Menyangkut jarak yang pendek antara
subjek dan objek.
4) Mengenai periode sensorimotor:
5) Umur hanyalah pendekatan. Periode-periode
tergantung pd banyak faktor: lingkungan sosial dan kematangan fisik.
6) Urutan periode tetap.
7) Perkembangan gradual dan merupakan
proses yang kontinu.
b.
Tahap pre – operational,
yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun. Tahap ini
diidentikkan dengan mulai digunakannya symbol atau bahasa tanda, dan telah
dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstrak.
c.
Tahap concrete – operational,
yang terjadi pada usia 7-11 tahun. Tahap ini dicirikan dengan anak sudah mulai
menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis. Anak sudah tidak memusatkan
diri pada karakteristik perseptual pasif.
d. Tahap formal – operational,
yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 11-15 tahun. Ciri
pokok tahap yang terahir ini adalahanak sudah mampu berpikir abstrak dan
logisdengan menggunakan pola pikir “kemungkinan”.
2. Jerome Bruner Dengan Discovery
Learningnya
Bruner
menekankanbahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan,
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. Bruner
meyakini bahwa pembelajaran tersebut bisa muncul dalam tiga cara atau bentuk,
yaitu: enactive, iconic dan simbolic. Pembelajaran enaktif
mengandung sebuah kesamaan dengan kecerdasan inderawi dalam teori Piaget. Pengetahuan
enaktif adalah mempelajari sesuatu dengan memanipulasi objek –
melakukan pengatahuan tersebut daripada hanya memahaminya. Anak-anak didik
sangat mungkin paham bagaimana cara melakukan lompat tali (‘melakukan’
kecakapan tersebut), namun tidak terlalu paham bagaimana menggambarkan
aktifitas tersebut dalam kata-kata, bahkan ketika mereka harus menggambarkan
dalam pikiran.
Pembelajaran ikonik merupakan pembelajaran yang melalui gambaran; dalam bentuk
ini, anak-anak mempresentasikan pengetahuan melalui sebuah gambar dalam benak
mereka. Anak-anak sangat mungkin mampu menciptakan gambaran tentang pohon
mangga dikebun dalam benak mereka, meskipun mereka masih kesulitan untuk
menjelaskan dalam kata-kata.
Pembelajaran simbolik, ini merupakan pembelajaran yang dilakukan melalui
representasi pengalaman abstrak (seperti bahasa) yang sama sekali tidak
memiliki kesamaan fisik dengan pengalaman tersebut. Sebagaimana namanya,
membutuhkan pengetahuan yang abstrak, dan karena simbolik pembelajaran yang
satu ini serupa dengan operasional formal dalam proses berpikir dalam teori
Piaget.
Jika
dikorelasikan dengan aplikasi pembelajaran, Discoveri learningnya Bruner dapar
dikemukakan sebagai berikut:
- Belajar
merupakan kecenderungan dalam diri manusia, yaitu Self-curiousity (keingintahuan)
untuk mengadakan petualangan pengalaman.
- Belajar
penemuan terjadi karena sifat mental manusia mengubah struktur yang ada.
Sifat mental tersebut selalu mengalir untuk mengisi berbagai kemungkinan
pengenalan.
- Kualitas
belajar penemuan diwarnai modus imperatif kesiapan dan kemampuan secara
enaktif, ekonik, dan simbolik.
- Penerapan
belajar penemuan hanya merupakan garis besar tujuan instruksional sebagai
arah informatif.
- Kreatifitas
metaforik dan creative conditioning yang bebas dan bertanggung
jawab memungkinkan kemajuan.
3. Teori Belajar Bermakna Ausubel.
Psikologi
pendidikan yang diterapkan oleh Ausubel adalah bekerja untuk mencari hukum
belajar yang bermakna, berikut ini konsep belajar bermakna David Ausubel.
Pengertian belajar bermakna
Menurut
Ausubel ada dua jenis belajar : (1) Belajar bermakna (meaningful learning)
dan (2) belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna adalah suatu
proses belajar di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian
yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Sedangkan belajar menghafal
adalah siswa berusaha menerima dan menguasai bahan yang diberikan oleh guru
atau yang dibaca tanpa makna.
Sebagai
ahli psikologi pendidikan Ausubel menaruh perhatian besar pada siswa di
sekolah, dengan memperhatikan/memberikan tekanan-tekanan pada unsur
kebermaknaan dalam belajar melalui bahasa (meaningful verbal learning).
Kebermaknaan diartikan sebagai kombinasi dari informasi verbal, konsep, kaidah
dan prinsip, bila ditinjau bersama-sama. Oleh karena itu belajar dengan
prestasi hafalan saja tidak dianggap sebagai belajar bermakna. Maka, menurut
Ausubel supaya proses belajar siswa menghasilkan sesuatu yang bermakna, tidak
harus siswa menemukan sendiri semuanya. Malah, ada bahaya bahwa siswa yang
kurang mahir dalam hal ini akan banyak menebak dan mencoba-coba saja, tanpa
menemukan sesuatu yang sungguh berarti baginya. Seandainya siswa sudah seorang
ahli dalam mengadakan penelitian demi untuk menemukan kebenaran baru, bahaya
itu tidak ada; tetapi jika siswa tersebut belum ahli, maka bahaya itu ada.
Ia
juga berpendapat bahwa pemerolehan informasi merupakan tujuan pembelajaran yang
penting dan dalam hal-hal tertentu dapat mengarahkan guru untuk menyampaikan
informasi kepada siswa. Dalam hal ini guru bertanggung jawab untuk
mengorganisasikan dan mempresentasikan apa yang perlu dipelajari oleh siswa,
sedangkan peran siswa di sini adalah menguasai yang disampaikan gurunya.
Belajar
dikatakan menjadi bermakna (meaningful learning) yang dikemukakan oleh
Ausubel adalah bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai
dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik
itu mampu mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognitif yang
dimilikinya.
Belajar
seharusnya merupakan apa yang disebut asimilasi bermakna, materi yang
dipelajari di asimilasikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah
dipunyai sebelumnya. Untuk itu diperlukan dua persyaratan :
a.
Materi yang secara potensial bermakna dan dipilih oleh guru dan harus sesuai
dengan tingkat perkembangan dan
pengetahuan masa lalu peserta didik.
b.
Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna, faktor motivasional memegang
peranan penting dalam hal ini, sebab peserta didik tidak akan
mengasimilasikan materi baru tersebut apabila mereka tidak mempunyai keinginan
dan pengetahuan bagaimana melakukannya. Sehingga hal ini perlu diatur oleh
guru, agar materi tidak dipelajari secara hafalan.
Berdasarkan
uraian di atas maka, belajar bermakna menurut Ausubel adalah suatu proses
belajar di mana peserta didik dapat menghubungkan informasi baru dengan
pengetahuan yang sudah dimilikinya dan agar pembelajaran bermakna, diperlukan 2
hal yakni pilihan materi yang bermakna sesuai tingkat pemahaman dan pengetahuan
yang dimiliki siswa dan situasi belajar yang bermakna yang dipengaruhi oleh
motivasi.
Dengan
demikian kunci keberhasilan belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang
diterima atau yang dipelajari oleh siswa. Ausubel tidak setuju dengan pendapat
bahwa kegiatan belajar penemuan (discovery learning) lebih bermakna
daripada kegiatan belajar penerimaan (reception learning). Sehingga
dengan ceramahpun, asalkan informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi
penyajiannya sistematis, akan dihasilkan belajar yang baik.
|
JEAN PIAGET
|
JEROME BRUNER
|
DAVID AUSUBEL
|
|
· Proses belajar terjadi
menurutpola tahaptahapperkembangan tertentu sesuai denganumur siswa.
·
Proses belajar melalui tahap-tahap
Asimilasi
(proses penyesuaianpengetahuan barudengan struktur
kognitifsiswa).
Akomodasi
(proses penyesuaianstruktur kognitif siswadengan
pengetahuanbaru).
Ekuilibrasi
(proses penyeimbanganmental setelahterjadi proses
asimilasi /akomodasi).
|
·
Proses belajar terjadi
lebih ditentukanoleh cara kita mengaturmateri pelajaran,
danbukan ditentukan oleh umursiswa.
· Proses belajar melalui tahap-tahap
:
Enaktif
(aktivitas siswa untukmemahami lingkungan.
Ikonik
(siswa melihat duniamelalui gambar-gambardanvisualisasi
verbal).
Simbolik
(siswa memahamigagasan-gagasanabstrak)
|
·
Proses belajar terjadi
bila siswamampu mengasimilasikanpengetahuan yang dia milikidengan
pengetahuan yangbaru.
·Proses
belajar melalui tahap-tahap:
Memperhatikanstimulusyang diberikan.
Memahamimakna stimulus.
Menyimpandan menggunakaninformasi yang sudahdipahami.
|
D.
Aplikasi Teori Kognitif dalam kegiatan Pembelajaran
Hakekat belajar menurut teori
kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan
penataan informasi, reorganisasi persepsual, dan proses internal. Kebebasan dan
ketelibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar
belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti
prinsip-prinsip sebagai berikut :
1.
Siswa bukan sebagai orang dewasa yang
muda dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui
tahap-tahap tertentu.
2.
Anak usia pra sekolah dan awal sekolah
dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda
kongkrit.
3.
Keterlibatan siswa secara aktif dalam
belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses
asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
4.
Untuk menarik minat dan meningkatkan
retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan
setruktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
5.
Pemahaman dan retensi akan meningkat
jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola ataulogika tertentu, dari
sederhana ke kompleks.
6.
Belajar memahami akan lebih bermakna
dari pada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan
dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Tugas guru adalah
menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah
diketahui siswa.
7.
Adanya perbedaan individual pada diri
siswa perlu diperhatikan, karena factor ini sangat mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan
berpikir, pengetahuan awal, dan sebaginya.
Ketiga
tokoh aliran diatas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan
ketelibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget, hanya dengan
mengaktifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi
pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara itu, Bruner
lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui
aktivitas menemukan (discovery). Cara
demikian akan mengarahkan siswa pada bentuk belajar induktif, yang menuntut
banyak dilakukan pengulangan. Hal ini tercermin dari model kurikulum spiral
yang dikemukakannya. Berbeda dengan Bruner, Ausubel lebih mementingkan struktur
disiplin ilmu. Dalam proses belajar lebih banyak menekankan pada cara berfikir
deduktif.
BAB
III
SIMPULAN
DAN SARAN
A. Simpulan
Sebagai
seorang pendidik kita harus menyadari bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan
penyampaian informasi kepada peserta didik, yang nantinya informasi tersebut
diolah oleh alat-alat kognisi yang dimiliki oleh pesrta didik. Oleh karena itu
pelaksanaan pembelajaran harus member ruang yang bebas dan luas kepada siswanya
untuk mengembangkan kualitas intelektualnya. Pada dasarnya proses pembelajaran
adalah suatu system artinya keberhasilan proses pembelajaran tidak hanya
ditentukan oleh salah satu faktor saja , tetapi lebih ditentukan secara
simultan dan komprehensif dari berbagai faktor yang ada. Dalam melaksanakan
kegiatan pembelajaran seorang guru harus menciptakan pembelajaran yang natural,
tidak perlu ada suatu rekaan atau paksaan kepada siswanya.
Dalam
kegiatan pembelajaran pengembangan meteri harus benar-benar dilakukan secara
kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik. Pelaksanaan
kegiatan pembelajaran tidak hanya bisa dilakukan di dalam ruangan saja tetapi
juga bisa dilakukan diluar ruangan dengan cara memanfaatkan alam sekita sebagai
wahana tempat pembelajaran. Metode yang dapat digunakan juga tidak harus selalu
minoton, metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam pembelajaran
menurut teori ini. Keterlibatan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran
amat dipentingkan karena henya dengan mengaktifkan siswa, maka proses asimilasi
dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Selain itu,
seorang guru juga harus mampu memahami dan memperhatikan perbedaan individual
anak, arena hal ini merupakan faktor penentu keberhasilan dalam pembelajaran.
B.
Saran
Sebaiknya
teori ini digunakan semaksimal mungkin agar menjadikan siswa lebih kreatif dan
mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah
DAFTAR PUSTAKA